Analisis Ekonomi Usahatani Padi di Kecamatan Kampar

Studi Komparatif Antara Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Non-PHT

Authors

  • Amalia Universitas Lancang Kuning
  • Hamdan Yasid Universitas Lancang Kuning
  • Khairunnas Universitas Lancang Kuning
  • Syartiwidya Badan Riset dan Inovasi Daerah
  • Tengku Harumut Rasyid Badan Riset dan Inovasi Daerah

DOI:

https://doi.org/10.32528/agribest.v10i1.5097

Keywords:

rice farming, Integrated Pest Management (IPM), farming efficiency

Abstract

Konsep Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT) diperkenalkan sebagai strategi pengendalian OPT yang menekankan prinsip pencegahan dan efisiensi penggunaan input sintetis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja komparatif usahatani padi dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan non-PHT di Kecamatan Kampar, Provinsi Riau. Kajian difokuskan pada struktur biaya, penerimaan, dan keuntungan untuk menilai kelayakan ekonomi kedua sistem usahatani tersebut. Data dikumpulkan dari 100 petani padi yang terdiri atas 38 petani PHT dan 62 petani non-PHT melalui observasi lapangan dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi berbasis PHT menghasilkan penerimaan lebih tinggi (Rp 6.320.700/ha) dibandingkan non-PHT (Rp 3.362.580/ha). Keuntungan atas biaya total pada PHT sebesar Rp 2.844.115 dengan nilai R/C ratio 1,80, lebih tinggi dibandingkan non-PHT sebesar Rp 1.521.227 dengan nilai R/C ratio 1,52. Komponen biaya utama pada PHT adalah tenaga kerja luar keluarga (15,27%), sedangkan biaya non-tunai lebih besar karena penggunaan kompos dan pestisida nabati buatan sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan PHT menurunkan penggunaan pestisida sintetis, meningkatkan efisiensi input, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, usahatani padi berbasis PHT lebih menguntungkan dan layak dikembangkan untuk pertanian berkelanjutan di Kecamatan Kampar.

References

Altieri, M. A. (1999). The ecological role of biodiversity in agroecosystems. Agriculture, Ecosystems & Environment, 74(1–3), 19–31. https://doi.org/10.1016/S0167-8809(99)00028-6

Badan Pusat Statistik. (2022). Provinsi Riau dalam angka 2022.

Ecobichon, D. J. (2011). Pesticide use in developing countries. Toxicology, 160, 27–33. https://doi.org/10.1016/S0300-483X(01)00452-2

Food and Agriculture Organization (FAO). (2014). Building a common vision for sustainable food and agriculture: Principles and approaches.

Food and Agriculture Organization (FAO). (2018). Integrated pest management. https://www.fao.org/agriculture/crops/thematic-sitemap/theme/pests/ipm/en/

Geiger, F., Bengtsson, J., Berendse, F., et al. (2010). Persistent negative effects of pesticides on biodiversity and biological control potential on European farmland. Basic and Applied Ecology, 11(2), 97–105. https://doi.org/10.1016/j.baae.2009.12.001

Hafid, M. (2021). Pengaruh tenaga kerja, modal dan luas lahan terhadap produksi usahatani padi (Skripsi). Universitas Negeri Semarang.

Hernanto, F. (1991). Ilmu usahatani. Penebar Swadaya.

Irham, & Mariyono, J. (2001). Usaha menurunkan penggunaan pestisida sintetis dengan program pengendalian hama terpadu. Manusia dan Lingkungan, 8(1), 30–36.

Kementerian Pertanian. (2011). Pedoman pengendalian hama terpadu.

Kogan, M. (1998). Integrated pest management: Historical perspectives and contemporary developments. Annual Review of Entomology, 43, 243–270. https://doi.org/10.1146/annurev.ento.43.1.243

Larasati. (2012). Efisiensi alokatif faktor-faktor produksi dan pendapatan petani padi (Skripsi). Universitas Brawijaya.

Mosher, A. T. (1991). Menggerakkan dan membangun pertanian.

Pimentel, D. (2005). Environmental and economic costs of pesticide application. Environment, Development and Sustainability, 7, 229–252. https://doi.org/10.1007/s10668-005-7314-2

Pilomonu, J. H. N., Halid, A., & Rauf, A. (2020). Analisis alokasi waktu tenaga kerja wanita pada usahatani jagung. AGRINESIA, 5(1).

Pretty, J., & Bharucha, Z. P. (2015). Integrated pest management for sustainable intensification. Insects, 6(1), 152–182. https://doi.org/10.3390/insects6010152

Putri, P. A., Anwar, I. G. L., & Tanaya, P. (2019). Sistem pengupahan tenaga kerja pada usahatani padi. Agroteksos, 29(3).

Safaruddin. (2022). Penggunaan waktu kerja dan tingkat pendapatan petani padi. Jurnal Pertanian Berkelanjutan, 10(2).

Schreinemachers, P., Schad, I., Tipraqsa, P., et al. (2012). Can public GAP standards reduce pesticide use? Agriculture and Human Values, 29, 519–529. https://doi.org/10.1007/s10460-012-9378-6

Soekartawi. (1986). Ilmu usahatani dan penelitian untuk pengembangan petani kecil.

Sumarsono, S. (2003). Ekonomi manajemen sumber daya manusia dan ketenagakerjaan.

Tilman, D., Cassman, K. G., Matson, P. A., Naylor, R., & Polasky, S. (2002). Agricultural sustainability and intensive production practices. Nature, 418, 671–677. https://doi.org/10.1038/nature01014

Tohir, K. A. (1983). Pengetahuan tentang usahatani Indonesia.

Untung, K. (2000). Pelembagaan konsep pengendalian hama terpadu di Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia, 6(1), 1–8.

Waage, J. (1996). Integrated pest management and biotechnology. In G. J. Persley (Ed.), Biotechnology and integrated pest management (pp. 37–60). CAB International

Published

2026-03-30

How to Cite

Amalia, A., Yasid, H., Khairunnas, K., Syartiwidya, S., & Rasyid, T. H. (2026). Analisis Ekonomi Usahatani Padi di Kecamatan Kampar: Studi Komparatif Antara Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Non-PHT. Jurnal Agribest, 10(1), 206–213. https://doi.org/10.32528/agribest.v10i1.5097

Section

Articles