Pola Pelesapan Dalam Konstruksi Kalimat Berbahasa Indonesia Sebagai Bahasa Ketiga Pemelajar Bipa

Penulis

  • Roely Ardiansyah Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
  • Fransisca Dwi Harjanti Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.32528/bb.v8i1.640

Kata Kunci:

pemelajar BIPA, kegiatan menulis, pola pelesapan, Bahasa Indonesia sebagai bahasa ketiga

Abstrak

Penelitian ini berkonteks pemelajar BIPA sedang belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa ketiga yang berkaitan dengan kegiatan menulis. Dalam kegiatan menulis ini terdapat pelesapan dalam kalimat yang ditulis pemelajar. Pemelajar mengalami pelesapan yang terdiri atas delesi dan elipsis. Dua pola pelesapan tersebut ditemukan, ketika pemelajar mengkonstruksi kalimat. Fenomena ini menarik untuk diteliti yang berfokus pada pola pelesapan dalam konstruksi kalimat berbahasa Indonesia sebagai bahasa ketiga pemelajar BIPA. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pola pelesapan delesi dan elipsis dalam kalimat pemelajar BIPA. Rancangan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah setiap kalimat yang kedapatan pola pelesapan delesi dan elipsis dalam karangan bertema pengalaman. Sumber data penelitian ini adalah tiga pemelajar BIPA. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teknik baca. Teknik penganalisisan data menggunakan teknik analisis konten/isi. Hasil temuan penelitian pola pelesapan dalam kalimat pemelajar BIPA adalah 1) pola pelesapan elipsis teridentifikasi pada kalimat majemuk setara sejalan, kalimat majemuk setara belawanan, kalimat majemuk setara penguat, kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu, dan kalimat tunggal. Lima jenis kalimat ini mengalami pelesapan yang mengarah pada penggunaan konjungsi dan kosakata tertentu. Konjungsi yang dilesapkan antara lain dan, sedangkan kosakata yang dilesapkan meliputi saya, rasanya, kota, kondisi jalanya, kondisi, makan, dan harganya. Kosakata tersebut berkategori subjek, predikat, objek, dan keterangan; 2) pola pelesapan delesi teridentifikasi dalam kalimat tanya yang meliputi, a) Kapan budaya “selfie” mengembangkan? Secara konteks terjadinya prefiks dan sufiks menjadi Kapan budaya “selfie” berkembang?; b) saya menampik? Secara koteks dan situasional menjadi saya menolak?; dan c) untuk hanya hari? Secara konteks menjadi untuk hari ini?. Tiga kalimat tanya yang kedapatan pelesapan digunakan pemelajar untuk menanyakan tentang waktu dan menyampaikan penolakan.

Referensi

Bandono, R. D. (2010). Tipe dan Pola Klausa Subordinatif Bahasa Indonesia. Jurnal Sosioteknologi, 9(20), 895-922.

Dalman. 2014. Keterampilan Menulis. Jakarta: Raja Gravindo Persada.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Matthews, P.H. 1997. Syntax. New York: Cambridge University Press.

Nesi, Antonius, Max Regus, Yuliana Jetia Moon. Pola Pelesapan Unsur Bahasa Indonesia: Studi Kasus Opini Kompas. 2020. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 9(2) November 2020 hlmn 75—82.

Rampung, B., Nesi, A., & Sii, P. .2020. Elipsis dalam Wacana tentang Covid-19 dalam Kolom Opini Surat Kabar Kompas. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio 12(2), 152- 163. DOI: https://doi.org/10.36928/jpkm. v12i2.580

Tukiran, D. 2008. “Pemahaman Unsur Pelesapan dalam Konstruksi Setiawan, Teguh. 2005. “Kaidah Pelesapan dalam Kalimat Majemuk”. Dalam Jurnal Litera, Volume 4, Nomor 1, Januari, hlm. 41–51. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Zhong, Y., Jiang, C., Xu, W., & Li, J. J. (2020). Discourse level factors for sentence deletion in text simplification. In Proceedings of the AAAI Conference on Artificial Intelligence, 34(05), 9709- 9716).

Unduhan

Diterbitkan

31-07-2023

Cara Mengutip

Ardiansyah, R., & Harjanti, F. D. . (2023). Pola Pelesapan Dalam Konstruksi Kalimat Berbahasa Indonesia Sebagai Bahasa Ketiga Pemelajar Bipa. BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 8(1), 97–108. https://doi.org/10.32528/bb.v8i1.640