Konstruksi Sosial dan Nilai Edukatif Legenda Segitiga Ranu: Relevansinya dalam Pembelajaran Sastra
DOI:
https://doi.org/10.32528/bb.v11i2.6628Kata Kunci:
Legenda Segitiga Ranu, Sosiologi Sastra, Fungsi Folklor, Nilai Didaktis, Pembelajaran SastraAbstrak
Sastra lisan merupakan warisan budaya tak benda yang berfungsi merekam memori kolektif dan kearifan ekologis suatu masyarakat. Namun, eksistensi sastra lisan di tengah modernisasi semakin terancam, dan pemanfaatannya dalam pendidikan sastra sering kali terabaikan akibat dominasi pembelajaran teoretis yang miskin konteks lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi legenda di kawasan Segitiga Ranu Kabupaten Lumajang (Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis), membedah struktur naratifnya, menganalisis fungsi sosial-kulturalnya, serta merumuskan muatan nilai didaktis dan implikasinya bagi pembelajaran sastra di sekolah. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Metode yang diterapkan adalah analisis isi inferensial, didukung oleh pengumpulan data primer melalui wawancara mendalam dengan masyarakat adat, serta data sekunder berupa studi literatur historis dan geologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara struktural, legenda Segitiga Ranu dibangun oleh tema harmoni kosmis dan hibriditas penokohan yang memadukan figur spiritual Islam dengan entitas mitologis. Berdasarkan teori fungsionalisme William R. Bascom, legenda ini menjalankan empat fungsi utama, yakni sebagai sistem proyeksi, pengesahan kebudayaan, alat pendidikan, dan alat pengendali sosial. Penelitian ini juga mengekstraksi empat nilai didaktis utama: religiusitas, kepedulian ekologis, tanggung jawab moral-empati, dan solidaritas sosial. Kesimpulannya, legenda Segitiga Ranu merupakan kristalisasi sejarah, ekologi, dan spiritualitas yang tidak sekadar berfungsi sebagai pelipur lara, melainkan memuat kurikulum ekologis informal yang esensial. Integrasi kearifan lokal ini sebagai materi ajar Bahasa dan Sastra Indonesia direkomendasikan agar pembelajaran berlangsung secara kontekstual, bermakna, dan mampu memperkuat karakter peduli lingkungan para siswa.
Referensi
Bascom, W. R. (1954). Four Functions of Folklore. The Journal of American Folklore, 67(266), 333–349.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches (4th ed.). New York City: SAGE Publications.
Dewi, A. C. (2025). Kearifan Lokal dalam Sastra Indonesia sebagai Media Pendidikan Karakter. Jurnal Kajian Pendidikan dan Cakrawala Pembelajaran, 1(1), 81-90.
Gita, T. A. B. A. (2024). Nilai Sosial dan Fungsi Sage Kisah Siti Fatimah Binti Maimun di Gresik dalam Kehidupan Bermasyarakat: Teori Fungsi Bascom. Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 11(2), 475-485.
Kasnowihardjo, H. G. (2017). Manusia dan Ranu: Kajian Arkeologi Pemukiman. Yogyakarta: Kepel Press.
Luftiansa, A. (2018). Legenda Putri Jawi dan Candi Jawi di Desa Candiwates (Kajian Struktur, Fungsi, Nilai Budaya, dan Pengaruh). BAPALA, 5(2), 1-8.
Maulani, S., Faridah, Putri, & Ardiansyah, D. (2025). Peran Cerita Rakyat dalam Membentuk Karakter Anak. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 6(1), 394-402.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2018). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (4th ed.). New York City: SAGE Publications.
Novayana, & Alfi, L. Q. K. (2025). Analisis Nilai Moral pada Cerita Rakyat Malin Kundang, Timun Mas, dan Danau Toba Dalam Buku Bahasa Indonesia Kelas 3 Sekolah Dasar. JIRS: Jurnal Ilmiah Research Student, 2(1), 399-407.
Nurelide, nfn. (2020). Ekologi Sastra Lisan dalam Cerita Rakyat Lae Angkat di Tanah Mungkur. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 11(1), 57–68.
Okpatrioka, Sari, B. G. M., & Zhafirah, N. (2023). Inovasi Penanaman Karakter Gotong Royong Berbasis Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pada Jenjang Sekolah Dasar. Garuda: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Dan Filsafat, 1(3), 105–118.
Pemerintah Kabupaten Lumajang. (2026, Mei 20). Satu Data Lumajang – Portal Data Statistik Sektoral. 24 Juni 2026, https://satudata.lumajangkab.go.id/datasetsearch_skpd=&search_urusan=&search=kunjungan+wisatawan.
Sibarani, R. (2020). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan (Edisi Revisi). Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.
Sudikan, S. Y. (2007). Antropologi Sastra. Surabaya: Unesa University Press.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suninica, I. P. E., Sutama, I. M., & Yasa, I. N. (2024). Analisis Nilai-Nilai Karakter dalam Cerita Rakyat dan Relevansinya di dalam Pembelajaran bagi Pengembangan Karakter Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksa, 14(1), 159-170.
Taum, Y. Y. (2018). Sastra dan Dinamika Masyarakat: Analisis Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Warnisa, I., Supriyanto, R. T., & Nugroho, Y. E. (2023). Functions of Oral Literature Malèlang Madiôn for Its Supporting Community in Aceh Barat Daya. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 12(1), 35-42.
Wiyatmi, Suryaman, M., & Sari, E. S. (2017). Ekokritik Sastra: Melestarikan Alam dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Belajar Bahasa: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.




