Motifeme dalam Legenda Telaga Pasir dan Legenda Serupa di Pulau Jawa serta Relevansinya sebagai Bahan Ajar Mata Kuliah Sastra Lisan

Penulis

  • Moh Yusril Hermansya Universitas Negeri Surabaya
  • Heny Subandiyah Universitas Negeri Surabaya
  • Anas Ahmadi Universitas Negeri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.32528/bb.v8i2.171

Kata Kunci:

Motifeme;, Legenda;, Struktur Naratif Alan Dundes;, Bahan Ajar Sastra Lisan;

Abstrak

Legenda merupakan representasi budaya masyarakat di wilayah tertentu yang di dalamnya terdapat motifeme cerita yang memiliki keterkaitan dengan legenda lainnya. Legenda sebagai bentuk produk dari cerita rakyat secara lisan memiliki struktur pembentuk yang dapat dianalisis untuk mencari motifeme. Selain itu, pengkajian terhadap legenda juga dibutuhkan sebagai bentuk bahan ajar mata kuliah sastra lisan. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan kemunculan motifeme pada legenda Telaga Pasir dan legenda serupa di pulau jawa; (2) mendeskripsikan tipologi pada legenda Telaga Pasir dan legenda serupa di pulau jawa; (3) mendeskripsikan relevansi penelitian ini sebagai bahan ajar dalam mata kuliah sastra lisan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif dengan menggunakan metode studi kepustakaan yang bertumpu pada teori struktur naratif ala Alan Dundes. Sumber data penelitian ini adalah cerita legenda Telaga Pasir dan legenda serupa di pulau jawa, yaitu legenda Telaga Wahyu, Rawa Pening, dan Telaga Ngebel. Hasil penelitian ini di antaranya (1) terdapat sebuah motifeme yang kemunculannya sering terjadi pada keempat legenda tersebut antara lain lack, lack liquidate, task, task completed, violatin, dan consequences; (2) keempat legenda tersebut memiliki suatu tipologi yang hampir sama yaitu adanya keinginan-memiliki anak berupa ular atau naga-ujian atau cobaan-pertolongan-syarat tidak terpenuhi-muncullah sumber mata air; (3) relevansi sebagai bahan ajar, penelitian ini relevan sebagai bahan ajar pada mata kuliah sastra lisan. Bahan ajar tersebut bisa berwujud contoh pengkajian sastra lisan dan/atau bahan pengkajian sastra lisan.

Referensi

Amir, Andiyetti. (2013). Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset.

Astika, I Made, DKK. (2014). Sastra Lisan Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Burkert, Walter. (2013). Structure and History in Greek Mythology.. California: University of California Press.

Danandjaja, James. (2014). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti.

Endarmoko, Eko. (2013). Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

May, Mathilda. (2013). 10 Korean Classic Tales 10 Kisah Klasik Korea. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moentaha, Solihen. (2013). Bahasa dan Terjemahan. Jakarta: Kesaint Blanc. Newmark.

Sudikan, Setya Yuwana. (2017). Metode Penelitian Sastra Lisan. Lamongan: Pustaka Ilalang Group.

Sari, E. M. (2015). Motifeme dalam Terjemahan Dongeng 10 Korean Classic Tales ‘10 Kisah Klasik Korea’. Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan, 53—64.

Zed, Mestika. (2013). Metode Penelitian Kepustakaaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Unduhan

Diterbitkan

30-09-2023

Cara Mengutip

Hermansya, M. Y., Subandiyah, H., & Ahmadi, A. (2023). Motifeme dalam Legenda Telaga Pasir dan Legenda Serupa di Pulau Jawa serta Relevansinya sebagai Bahan Ajar Mata Kuliah Sastra Lisan. BELAJAR BAHASA: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 8(2), 216–227. https://doi.org/10.32528/bb.v8i2.171